Label

MKI Jonggrangan-Sleman ZIARAH KE MAKAM SUNAN BAYAT TAHUN 2011

Pintu Gerbang Makam
Pada acara Ziarah wali tahun 2011 Madrasah Kuliyyatul Islamy (MKI) Jonggrangan-Sleman berkesempatan mengunjungi makam Sunan Bayat atau yang dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II).Beliau adalah tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Beliau berkaitan erat dengan sejarah Kota Semarang serta penyebaran awal agama Islam di tanah Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Songo. Lokasi makamnya berada di perbukitan ("Gunung Jabalkat") di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16). 

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa beliau adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.
Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Terdapat variasi cerita menurut beberapa babad tentang bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Namun, pada akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.
Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu). Ia lalu menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.

Sumber referensi : wikipedia




















Lihat Peta Lokasi Makam Sunan Bayat Klik di sini.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Bidah itu mending ziarah ke makam sodara deket

Tim Work MKI mengatakan...

bidah apaan sih ?

Reyvanza Bimasena mengatakan...

Maksud

Reyvanza Bimasena mengatakan...

Maksud

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...