Label

Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

VIDEO DOKUMENTASI KEGIATAN ZIARAH MKI KE KYAI LANGGENG 2009


VIDEO RANGKUMAN KEGIATAN ACARA HAFLAH AKHIRUSSANANAH MADRASAH KULIYYATUL ISLAMY ( MKI ) 2010



Alhamdulillah puji syukur kehadirat Alloh SWT,dan terima kasih kami haturkan kepada yth. :

1. Bapak KH. Hasyim Muzadi
2. Pengasuh MKI Bapak KH. Ahmad Zabidi,BA
3. Segenap Panitia Haflah MKI 2010
4. Pengurus dan Ustadz-Ustadzah MKI
5. Wali santri & santri MKI
6. Para tamu Undangan
7. Warga masyarakat Jonggrangan-Jumeneng Lor
8. Pemuda-Pemudi Jonggrangan-Jumeneng Lor
9. Warga NU,Anshor,Fatayat & Banser
10. Instansi Pemerintahan
11. Para donatur
12. dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

BOLA DITENDANG NGAJIPUN HILANG

Ada sedikit kejutan yang berbeda pada acara akhirussanah Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin yang di selenggarakan pada tanggal 08 Juni 2013 kemarin, dalam acara tersebut disajikan pementasan drama oleh para santri beserta ustadznya.drama tersebut menyajikan cerita berjudul " Bola Ditendang Ngajipun Hilang ".Drama tersebut mengisahkan cerita situasi kondisi santri di masyarakat khususnya di Madrasah Kuliyatul Islamy Jonggrangan terkini  yang kebanyakan santrinya enggan mengaji karena lebih menggandrungi bermain sepak bola.Ketika waktunya mengaji, kelas madrasah malah kosong disebabkan para santri lebih cenderung memilih bermain sepak bola ketimbang mengaji. Hal ini sangat umum terjadi di kalangan masyarakat kita.

Melalui pementasan drama tersebut disampaikanlah solusi pemecahan masalah tersebut  dengan cara membagi waktu antara mengaji dan bermain sepak bola.Caranya mengaji dahulu setelah itu baru bersama-sama bermain sepak bola,sehingga para santri bisa mendapat dua manfaat yaitu ilmu dan juga kebugaran serta kegembiraan.

Tidak jarang pula, pementasan drama pada acara akhirussanah JHM tersebut mendapat reaksi gelak tawa dari para hadirin melihat akting dari para santri yang lucu imut lebih-lebih akting ustadzahnya.Namun yang terpenting pesan yang baik bisa tersampaikan.Dengan adanya pementasan drama tersebut diharapkan menjadi wadah para santri untuk belajar tampil berkreasi dan berekspresi secara positif.


Pengertian Madrasah Diniyah


Sejarah Islam di Indonesia memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan di sini tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat Muslim. Selama kurun waktu yang panjang, pendidikan keagamaan Islam berjalan secara tradisi, berupa pengajian al-Qur’an dan pengajian kitab, dengan metode yang dikenalkan (terutama di Jawa) dengan nama sorogan, bandongan dan halaqah. Tempat belajar yang digunakan umumnya adalah ruang-ruang masjid atau tempat-tempat shalat “umum” yang dalam istilah setempat disebut: surau, dayah, meunasah, langgar, rangkang, atau mungkin nama lainnya.

Perubahan kelembagaan paling penting terjadi setelah berkembangnya sistem klasikal, yang awalnya diperkenalkan oleh pemerintah kolonial melalui sekolah-sekolah umum yang didirikannya di berbagai wilayah Nusantara. Di Sumatera Barat pendidikan keagamaan klasikal itu dilaporkan dipelopori oleh Zainuddin Labai el-Junusi (1890-1924), yang pada tahun 1915 mendirikan sekolah agama sore yang diberi nama “Madrasah Diniyah” (Diniyah School, al-Madrasah al-Diniyah) (Noer 1991:49; Steenbrink 1986:44). Sistem klasikal seperti rintisan Zainuddin berkembang pula di wilayah Nusantara lainnya, terutama yang mayoritas penduduknya Muslim. Di kemudian hari lembaga-lembaga pendidikan keagamaan itulah yang menjadi cikal bakal dari madrasah-madrasah formal yang berada pada jalur sekolah sekarang. Meskipun sulit untuk memastikan kapan madrasah didirikan dan madrasah mana yang pertama kali berdiri, namun Departemen Agama (dahulu Kementerian Agama) mengakui bahwa setelah Indonesia merdeka sebagian besar sekolah agama berpola madrasah diniyahlah yang berkembang menjadi mad-rasah-madrasah formal (Asrohah 1999:193). Dengan perubahan tersebut berubah pula status kelembagaannya, dari jalur “luar sekolah” yang dikelola penuh oleh masyarakat menjadi “sekolah” di bawah pembinaan Departemen Agama.


Meskipun demikian tercatat masih banyak pula madrasah diniyah yang mempertahankan ciri khasnya yang semula, meskipun dengan status sebagai pendidikan keagamaan luar sekolah. Pada masa yang lebih kemudian, mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964, tumbuh pula madrasah-madrasah diniyah tipe baru, sebagai pendidikan tambahan berjenjang bagi murid-murid sekolah umum. Madrasah diniyah itu diatur mengikuti tingkat-tingkat pendi-dikan sekolah umum, yaitu Madrasah Diniyah Awwaliyah untuk murid Sekolah Dasar, Wustha untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan ‘Ulya untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Madrasah diniyah dalam hal itu dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan klasikal jalur luar sekolah bagi murid-murid sekolah umum. Data EMIS (yang harus diperlakukan sebagai data sementara karena ketepatan-nya dapat dipersoalkan) mencatat jumlah madrasah diniyah di Indonesia pada tahun ajaran 2005/2006 seluruhnya 15.579 buah dengan jumlah murid 1.750.010 orang.

Berdasarkan Undang-undang Pendidikan dan Peraturan Pemerintah. Madrasah Diniyah adalah bagian terpadu dari pendidikan nasional untuk memenuhi hasrat masyarakat tentang pendidikan agama. Madrasah Diniyah termasuk ke dalam pendidikan yang dilembagakan dan bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dalam penguasaan terhadap pengetahuan agama Islam.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang ditindaklanjuti dengan disyahkannya PP No. 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan memang menjadi babak baru bagi dunia pendidikan agama dan keagamaan di Indonesia. Karena itu berarti negara telah menyadari keanekaragaman model dan bentuk pendidikan yang ada di bumi nusantara ini.


Keberadaan peraturan perundangan tersebut seolah menjadi ”tongkat penopang” bagi madrasah diniyah yang sedang mengalami krisis identitas. Karena selama ini, penyelenggaraan pendidikan diniyah ini tidak banyak diketahui bagaimana pola pengelolaannya. Tapi karakteristiknya yang khas menjadikan pendidikan ini layak untuk dimunculkan dan dipertahankan eksistensinya.


Secara umum, setidaknya sudah ada beberapa karakteristik pendidikan diniyah di bumi nusantara ini. Pertama, Pendidikan Diniyah Takmiliyah (suplemen) yang berada di tengah masyarakat dan tidak berada dalam lingkaran pengaruh pondok pesantren. Pendidikan diniyah jenis ini betul-betul merupakan kreasi dan swadaya masyarakat, yang diperuntukkan bagi anak-anak yang menginginkan pengetahuan agama di luar jalur sekolah formal. Kedua, pendidikan diniyah yang berada dalam lingkaran pondok pesantren tertentu, dan bahkan menjadi urat nadi kegiatan pondok pesantren. Ketiga, pendidikan keagamaan yang diselenggarakan sebagai pelengkap (komplemen) pada pendidikan formal di pagi hari. Keempat, pendidikan diniyah yang diselenggarakan di luar pondok pesantren tapi diselenggarakan secara formal di pagi hari, sebagaimana layaknya sekolah formal.

Ciri-ciri Madrasah Diniyah

Dengan meninjau secara pertumbuhan dan banyaknya aktifitas yang diselenggarakan sub-sistem Madrasah Diniyah, maka dapat dikatakan ciri-ciri ekstrakurikuler Madrasah Diniyah adalah sebagai berikut:

  1. Madrasah Diniyah merupakan pelengkap dari pendidikan formal.
  2. Madrasah Diniyah merupakan spesifikasi sesuai dengan kebutuhan dan tidak memerlukan syarat yang ketat serta dapat diselenggarakan dimana saja.
  3. Madrasah Diniyah tidak dibagi atas jenjang atau kelas-kelas secara ketat.
  4. Madrasah Diniyah dalam materinya bersifat praktis dan khusus.
  5. Madrasah Diniyah waktunya relatif singkat, dan warga didiknya tidak harus sama.
  6. Madrasah Diniyah mempunyai metode pengajaran yang bermacammacam.

Kurikulum yang digunakan Madrasah Diniyah

Berdasarkan Undang-undang Pendidikan dna Peraturan pemerintah no 73 tahun 1991 pada pasal 1 ayat 1 disebutkan “Penyelenggaraan pendidikan diluar sekolah boleh dilembagakan dan boleh tidak dilembagakan”. Dengan jenis “pendidikan Umum” (psl 3. ayat.1). sedangkan kurikulum dapat tertulis dan tertulis (pasl. 12 ayat 2). Bahwa Madrasah DIniyah adalah bagian terpadu dari system pendidikan nasional yang diselenggarakan pada jalur pendidikan luar sekolah untuk memenuhi hasrat masyarakat tentang pendidikan agama. Madarsah Diniyah termasuk kelompok pendidikan keagamaan jalur luar sekolah yang dilembagakan dan bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menguasai pengetahuan agama Islam, yang dibina oleh Menteri Agama (PP 73, Pasal 22 ayat 3). Oleh karena itu, maka Menteri Agama d/h Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam menetapkan Kurikulum Madrasah Diniyah dalam rangka membantu masyarakat mencapai tujuan pendidikan yang terarah, sistematis dan terstruktur. Meskipun demikian, masyarakat tetap memiliki keleluasaan unutk mengembangkan isi pendidikan, pendekatan dan muatan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan leingkungan madrasah.

Madrasah diniyah mempunyai tiga tingkatan yakni : Diniyah Awaliyah, Diniyah Wustha dan Diniyah Ulya. Madrasah DIniah Awaliyah berlangsung 4 tahun (4 tingkatan), dan Wustha 2 tahun (2 tingkatan). Input Siswa Madrasah Diniyah Awaliyah diasumsikan adalah siswa yang belakar pada sekolah Dasar dan SMP/SMU.

Sebagai bagian dari pendidikan luar sekolah, Madrasah Diniyah bertujuan :
  1. Melayani warga belajar dapat tumbuh dan berkembangn sedini mungkin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupanya.
  2. Membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperluakan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat dan /atau jenjang yang lebih tinggi, dan
  3. Memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah (TP 73 Pasal.2 ayat 2 s.d 3).
Untuk menumbuh kembangkan ciri madrasah sebagai satuan pendidikan yang bernapaskan Islam, amka tujuan madrasah diniyah dilengkapi dengan “memberikan bekla kemampuan dasar dan keterampilan dibidang agama Islam untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi muslim, anggota masyarakat dan warga Negara”. Dalam program pengajaran ada bebarapa bidang studi yang diajarkan seperti Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab, dan Praktek Ibadah.

Dalam pelajaran Qur’an-Hadits santri diarahkan kepada pemahaman dan penghayatan santri tentang isi yang terkandung dalam qur’an dan hadits. Mata pelajaran aqidah akhlak berfumgsi untuk memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada santri agar meneladani kepribadian nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul dan hamba Allah, meyakini dan menjadikan Rukun Iman sebagai pedoman berhubungan dengan Tuhannya, sesame manusia dengan alam sekitar, Mata pelajaran Fiqih diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan dan membina santri untuk mengetahui memahami dan menghayati syariat Islam. Sejarah Kebudayaan Islam merupakan mata pelajaran yang diharapkan dapat memperkaya pengalaman santri dengan keteladanan dari Nabi Muhammad SAW dan sahabat dan tokoh Islam. Bahasa Arab sangat penting untuk penunjang pemahaman santri terhadap ajaran agama Islam, mengembangkan ilmu pengetahuan Islam dan hubungan antar bangsa degan pendekatan komunikatif. Dan praktek ibadah bertujuan melaksanakan ibadah dan syariat agama Islam.

Kurikulum Madrasah Diniyah pada dasarnya bersifat fleksibel dan akomodatif. Oleh karena itu, pengembangannya dapat dilakukan oleh Departemen Agama Pusat Kantor Wilayat/Depag Propinsi dan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kotamadya atau oleh pengelola kegiatan pendidikan sendiri. Prinsip pokok untuk mengembangkan tersebut ialah tidak menyalahi aturan perundang-undangan yang berlaku tentang pendidikan secara umum, peraturan pemerintah, keputusan Menteri Agama dan kebijakan lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan madrasah diniyah.

PELANTIKAN JAM'IYYAH HIMMATUL MUTA'ALLIMIN ( JHM ) Periode 2012 - 2015

Pelantikan Pengurus JHM 2012-2015
     Berikut adalah foto pelantikan pengurus baru Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin ( JHM ) periode 2012-2015 oleh kepala Madrasah Kuliyyatul Islamy Jonggrangan Ustadz Jindar Edy (baju koko putih).Pelantikan dilaksanakan pada hari sabtu malam ahad tanggal 29 September 2012 di serambi Masjid Nurushshobah Jonggrangan Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta.Pelantikan tersebut dilaksanakan setelah acara serah terima jabatan dari pengurus lama yang diwakili oleh Ustadz Roniwan kepada pengurus baru yang diwakili oleh ketuanya yaitu Ahmad Septiawan.Dihadiri dan disaksikan oleh para pengurus serta anggota JHM, para pembina,serta ustadz dan ustadzah.

Sepintas Tentang Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin ( JHM )

     Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin atau disingkat dengan nama JHM adalah suborganisasi di bawah naungan Madrasah Kuliyyatul Islamy yang kepengurusan dan anggotanya berasal dari para santri Madrasah Kuliyyatul Islamy (MKI).JHM ini dibentuk sebagai wadah bagi para santrinya untuk mengembangkan potensi , kreativitas dan bakat para santri.

    Visi dari pembentukan organisasi ini adalah untuk mencetak generasi yang unggul,berani,percaya diri,memiliki imtaq dan iptek sebagai generasi pembangun dirinya sendiri, masyarakat,bangsa dan agama.Sedangkan misi dari JHM diantaranya adalah untuk melatih berorganisasi, melatih mental,keberanian dan kepercayaan diri para santri,melatih rasa tanggung jawab atas tugas yang diembankan,sebagai ajang silaturahim serta kebersamaan, menambah imtaq dan iptek para santri.Salah satu kegiatan dari JHM yaitu mengadakan pertemuan dan pengajian rutin setiap 2 (dua) bulan sekali.

Manfaat Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin (JHM )

Dengan adanya Jam'iyyah Himmatul Muta'allimin ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengarahkan para generasi muda (para santri) untuk berkegiatan positif sehingga terbentengi dari hal-hal atau pengaruh-pengaruh yang negatif yang berkembang saat ini semisal tawuran, narkoba, miras, dan pergaulan bebas.

Serah Terima Jabatan Pengurus JHM
Pengambilan Sumpah Jabatan JHM














Suasana Belajar Menulis Kelas Dua di MKI Jonggrangan-Sleman

          "Anak-anak kelas dua ayo masuk ...!",kata pak Ustadz."duduk yang rapi ya nak,sebelum pelajaran kita mulai kita berdoa dulu yuk,setunggal,kalih,tigo....",lanjut sang Ustadz..Para santripun kemudian berdoa membaca surah al-fatihah dan doa menuntut ilmu sampai selesai."Selanjutnya siapkan alat tulis,siapkan pensil dan buku kita akan belajar menulis hari ini",tutur sang Ustadz.Kemudian anak-anakpun menyiapkan alat tulis mereka,dan sang Ustadz menuliskan huruf-huruf hijaiyah di papan tulis di depan kelas."Ditulis ya nak",kata sang Ustadz."Iya Ustadz", jawab anak-anak santri serempak.Kemudian merekapun mulai asyik dan bersemangat menyalin tulisan di papan tulis ke dalam  buku mereka masing-masing.Selesai menulis kemudian anak-anak mengumpulkan tulisan mereka ke mejanya pak Ustadz untuk dinilai.Setelah semuanya selesai dinilai,kemudian mereka bersama-sama membaca tulisan di papan tulis dengan dibimbing oleh pak Ustadz.Setelah itu pelajaranpun selesai.Seperti itulah gambaran kecil suasana belajar menulis kelas dua di MKI Jonggrangan-Sleman,sebagaimana terlihat pada gambar di atas.Gambar tersebut diambil sekitar bulan Desember tahun 2011.
          Walaupun mereka belajar di ruangan yang tidak terlalu lebar berdindingkan kayu dan triplek namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka dalam belajar menuntut ilmu.

[Foto Jadul] Bersama Ustadz Amin

   Beginilah jika Ustadz sedang tidak mengajar biasanya diisi dengan beristirahat, duduk bersantai sambil membaca atau muthola'ah kitab atau sekedar ngobrol bersama teman-teman membicarakan seputar kegiatan belajar mengajar di lingkungan Madrasah.Dari sinilah kadang muncul ide atau gagasan yang tak terduga dan biasanya briliant.Memang kata orang sesuatu  yang tak terduga itu biasanya luar biasa.
     Gambar ini diambil sekitar tahun 2008.Pada gambar tersebut terlihat salah satu Ustadz yang mengajar di MKI Jonggrangan beliau adalah Ustadz Amin Sudaryanto.Ustadz yang bersahaja namun gigih dan tekun dalam mengajar,menjadi panutan serta contoh bagi santri-santrinya.Semoga beliau diberikan keberkahan,istiqomah serta kekuatan agar dapat terus berjuang membagi ilmunya yang bermanfaat untuk generasi bangsa ini.aamiin.

Suasana Pengajian Kitab di MKI Jonggrangan


     Berikut adalah suasana Pembukaan Pengajian Kitab di Madrasah Kuliyyatul Islamy di dalam lingkungan Masjid Nurushshobah Jonggrangan.Di Masjid Nurushshobah Jonggrangan terdapat Pengajian kitab rutin yang di asuh oleh beliau Bapak KH. Ahmad Zabidi,BA.Diselenggarakan setiap hari Jum'at siang (ba'da sholat Jum'at),rabu sore,selasa pagi dan sabtu pagi.Jamaah yang hadir tidak hanya dari warga sekitar namun malah kebanyakan berasal dari luar dusun Jonggrangan diantaranya dari dusun Jumeneng lor,seyegan ,Konteng,Nambongan,Bagusan,Jumeneng Cilik,Kantongan,Cebongan,Gerjen,Mrincingan dan lain sebagainya.Jamaah Pengajian ini  sebagian besar terdiri dari kalangan dewasa,remaja,bapak-bapak dan Ibu-ibu serta orang tua.

  Kitab yang dipelajari diantaranya mulai dari tafsir Jalalain,Kifayatul Atqiya,al-adzkar,dan lain sebagainya.Waktunya untuk yang hari jum'at siang biasanya mulai dari jam 14.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB ,kemudian untuk hari selasa dan sabtu pagi dimulai jam 06.00 WIB sampai dengan jam 07.00 WIB sedangkan untuk hari rabu sore dimulai jam16.00 WIB sampai dengan jam 17.00 WIB.Tempatnya di serambi masjid Nurushshobah Jonggrangan.

     Khusus untuk pengajian hari selasa dan sabtu pagi setelah selesai pengajian biasanya diadakan sholat dhuha bersama.

KEGIATAN MAJELIS SHOLAWAT DI MKI JONGGRANGAN

    Di Madrasah Kuliyyatul Islamy ( MKI ) Jonggrangan setiap malam jum'at dan malam ahad terdapat kegiatan rutinan yaitu pembacaan Sholawat oleh para santri - santri MKI.Mereka berkumpul dalam suatu majlis sholawat kemudian bersama-sama membacakan sholawat kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad sholallohu 'alaihi wassalam dengan diiringi tabuhan rebana sehingga menambah semarak suasana majelis sholawat.

    Kegiatan ini bertempat di Komplek Madrasah Kuliyyatul Islamy Jonggrangan,namun terkadang pula mereka berpindah-pindah tempat silih berganti ke rumah antar sesama santri secara bergantian.

     Dalam kegiatan ini biasanya para jamaah sholawat dibagi menjadi 2 grup,grup yang pertama sebagai pembaca sholawat sekaligus vokal dan backing vokal kemudian grup yang kedua sebagai penabuh rebana / terbang.Grup yang pertama yaitu yang bertugas sebagai pembaca sholawat/vokal biasanya terdiri dari 2 sampai 4 orang atau lebih,satu santri sebagai vokal utama dan yang lainnya sebagai backing vokalnya.Lalu grup yang kedua yang bertugas sebagai penabuh dibagi lagi menjadi beberapa bagian ada yang bertugas sebagai pemukul bass,penabuh terbang dan teplek.

     Tujuan dari kegiatan ini disamping untuk menanamkan rasa cinta para santri kepada baginda Rosululloh melalui sholawat juga sebagai wadah silaturahmi diantara para santri MKI Jonggrangan,sehingga tercipta keakraban dan kekompakan diantara mereka.

Kegiatan-Kegiatan Di Madrasah Kuliyyatul Islamy

 1. MENGAJI
 
Ini merupakan kegiatan
inti dan rutinitas setiap  hari di
Madrasah Kuliyyatul Islamy
Jonggrangan , setiap sore hari
ba’da Ashar mulai pukul 16.00 wib para santri yang terdiri dari kelas 1 sampai 4 masuk kelas masing-masing untuk menimba ilmu dari para ustadznya.Ilmu yang  mereka pelajari di MKI antara lain yaitu Iqro’,Fasholatan,Tajwid,Akhlak,Alquran dan lain sebagainya.sedangkan pada malam harinya bada maghrib kelas remaja mengaji Alquran.

2.   KAJIAN KITAB
        Yakni halaqoh ta’lim yang dibimbing oleh Bapak KH Ahmad Zabidi mengkaji kitab-kitab dari
mulai kitab Tafsir,Fiqh,Muamalah hingga tasawuf
ditujukan terutama bagi kalangan umum dewasa , diadakan setiap hari jum’at siang, sabtu dan selasa pagi,malam senin dan juga jumat malam sabtu.Jamaahnya berasal dari dusun Jonggrangan dan dari luar  dusun Jonggrangan.

3.    LOMBA
Biasanya diadakan menjelang Haflah Akhirussanah MKI,ditujukan khusus bagi santri anak-anak,perlombaan yang diadakan diantaranya :
      1.  CCA ( Cerdas Cermat Agama)
     2.  Menggambar
     3.  Menulis
     4. Mewarnai 
     5. dll
 



4. Ujian
        Diadakan menjelang akhir tahun
ajaran untuk mengetahui sampai
dimana kemampuan santri menyerap
pelajaran yang telah diberikan.

5.  ZIARAH WALI SONGO
        Kegiatan ini diadakan sebagai pengganti Haflah Akhirussanah diadakan pada akhir tahun ajaran.Pada akhir tahun ajaran 2009 M MKI pernah mengadakan ziarah wali songo ke daerah Magelang Jawa Tengah dengan Lukman Susanto sebagai ketua panitianya.Tempat yang diziarahi diantaranya di Gunung Pring Muntilan,Tegalrejo,dan Kyai Langgeng  Magelang.

6. HAFLAH AKHIRUSSANAH   ADDIROSIYAH MKI
        Kegiatan ini diadakan pada tiap akhir tahun ajaran.
          1. Haflah MKI tahun 2007 M
             Dalam acara  haflah ini  juga diputar dan diproduksi oleh MKI yang disutradarai   Suhaili Ahmad, dengan Bapak KH Mabarun dari  Bantul yang memberikan mau’idhoh hasanah.
2. Haflah MKI 2010 M
       Dalam acara ini MKI mengundang Almukarom Bapak KH Hasyim Muzadi untuk memberikan mau’idhoh hasanah. Acara ini dihadiri lebih dari 1500 tamu undangan.

 7. RAPAT PENGURUS MKI
        Kegiatan ini diadakan setiap 1 bulan sekali untuk membahas evaluasi, program-program kerja,agenda,ide-ide,dan permasalahan– permasalahan di madrasah.

8. RAPAT WALI SANTRI
Kegiatan ini diadakan setiap bulan sekali untuk membangun dukungan dan hubungan yang baik antara madrasah dan wali santri.

9.JAMIYAH  HIMMATUL MUTA’ALIMIN (JHM)
     Jamiyyah ini merupakan suborganisasi dalam tubuh MKI yang beranggotakan para santri mengadakan kegiatan pertemuan 1 kali setiap bulannnya yang kepengurusannya juga diambil dari para santri secara bergiliran setiap 1-2 tahun sekali secara bergantian. 
 dalam berorganisasi  serta untuk mengasah ilmu dan mental mereka dalam menjalakan tugas yang diembankan sehingga pada setiap pertemuan yang diadakan baik itu petugas Pembawa Acara,Pembaca Alquran,Sambutan,Pembacaan kalimah Toybah,maupun Ma’uidhoh hasanah selalu bergantian dan bergiliran.
10 GRUP REBANA SHOLAWAT    SANTRI
        Grup ini beranggotakan para santri disamping sebagai sarana     untuk  bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW,  juga untuk mengasah bakat kesenian mereka.









Sejarah Singkat Berdirinya Madrasah Kuliyyatul Islamy

Madrasah Kuliyyatul Islamy terletak di dusun Jonggrangan desa Sumberadi kecamatan Mlati kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta dalam lingkungan masjid Nurushobah Jonggrangan.Sekitar tahun 2004 M seorang pemuda bernama Roid Ahmad kembali pulang ke kampung halamannya di dusun Jonggrangan desa Sumberadi kecamatan Mlati kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta seusai menuntut ilmu di beberapa pesantren selama kurang lebih 20 tahun.Terakhir beliau menyelesaikan pendidikan pesantrennya di Lirboyo Kediri Jawa Timur selama kurang lebih 12 tahun.Usia beliau pada saat itu menginjak 31 tahun.Beliau adalah putra ke 2 dari 5 bersaudara dari pasangan Bapak KH Ahmad Zabidi dan istrinya Ibu Siti Muhaimin.Ayah beliau Bapak KH Ahmad Zabidi adalah seorang tokoh agama atau kyai dan merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Kuliyyatul Islam di dusun Jonggrangan.Seusai pulang dari Pesantren Lirboyo Kediri beliau membantu ayahandanya mengajar di Ponpes Kuliyyatul Islam Jonggrangan dan mengumpulkan beberapa pemuda serta pemudi untuk mengajarkan ilmunya kepada mereka, kemudian bersama ayahandanya mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Kuliyyatul Islamy di bawah naungan Pondok Pesantren Kuliyyatul Islamy , dengan beliau sendiri sebagai ketuanya dan ayahandanya Bapak KH Ahmad Zabidi sebagai pengasuhnya dengan sasaran pengajaran utamanya khusus bagi khalayak umum,para pemuda, remaja dan anak-anak di dusun Jonggrangan dan di wilayah sekitar pada umumnya.

Dengan dibantu murid-murid beserta sahabat-sahabatnya dari kalangan pemuda serta pemudi, beliau menjalankan sekaligus mengajarkan ilmunya di madrasah yang beliau dirikan tersebut.Beliau mengajar di Madrasah Kuliyyatul Islamy kurang lebih selama 2 tahun karena pada akhir tahun 2006 M ,beliau meninggal dunia disebabkan sakit yang dideritanya.Semoga Alloh merahmati dan mengampuninya ,amin.Selanjutnya kepemimpinan Madrasah Kuliyyatul Islamy dilanjutkan oleh sahabat beliau Jindar Edy sebagai ketuanya , yang sealumni dari Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur dan Suhaili Ahmad sebagai wakilnya yang merupakan adik kandung beliau.

Tentang Madrasah Kuliyyatul Islamy

      Madrasah Kuliyyatul Islamy Jonggrangan didirikan pada tanggal 20 Juli 2005, berlokasi di Jonggrangan Desa Sumberadi kecamatan Mlati Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.Madrasah yang diasuh oleh Bapak KH. Ahmad Zabidi ini dibentuk dengan tujuan sebagai wadah pembelajaran ilmu Agama Islam khususnya bagi masyarakat sekitar, umumnya masyarakat luas terutama generasi mudanya, dengan harapan nantinya bisa menjadi generasi yang cerdas ,beriman dan berakhlak mulia yang dapat berguna bagi dirinya pribadi ,masyarakat,Bangsa dan Agama.

       Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Kuliyyatul Islamy terbagi menjadi 2 kategori yaitu kategori anak-anak dan dewasa.Untuk kelas anak-anak waktu belajarnya pada sore hari, pelajaran yang diajarkan meliputi Iqro' (baca tulis Alqur'an),Akhlak,Sejarah Islam,Fiqh,Tauhid dan lain sebagainya.Sedangkan untuk kelas dewasa waktu belajarnya pada pagi,siang dan malam hari meliputi Alqur'an + Tafsir ,serta Pembahasan kitab-kitab klasik seperti Al-Adzkar dan lain sebagainya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...